Jalan - jalan Ke Desa Petang
Bali memang terkenal dengan keindahan desa-desanya yang masih alami dan belum tersentuh elemen modernitas disana-sininya. Kecuali Denpasar dan sekitarnya, kalau di Denpasar itu sudah tidak ada alaminya sama sekali
Salah
satu desa yang masih alami yakni Desa Petang yang oleh para turis kerap dijadikan sebagai
tujuan wisata. Apa yang bisa didapatkan dengan berkunjung ke Desa
Petang? Desa ini menawarkan alam pedesaan yang masih tampak asri, dengan
ragam kehidupan masyarakat bali yang kental sekali kealamiannya.
Selain itu, ketika kita berkunjung ke desa ini akan ditemukan banyak tanaman holtikultura yang meliputi berbagai sayur mayur, kemudian pesawahan yang berundak-undak dengan aliran Sungai Ayung yang berliku yang kerapkali dijadikan sebagai tempat olahraga rafting Sueeegeerrr benerr mann. Maka itu, tak ada yang salah jika kemudian desa ini mendapatkan julukan sebagai Desa Wisata dengan berbagai kelebihan dan keindahan alamnya.
Mayoritas
penduduk Desa Petang bermata pencaharian sebagai petani, meskipun ada
beberapa penduduk yang bekerja di sektor perdagangan dan pegawai negeri
maupun swasta. Desa Petang sendiri berada di ketinggian 800 meter diatas
permukaan laut, dengan jarak dari Kota Denpasar sekitar 32 km. pokoknya
ada banyak spot untuk menikmati indahnya alam yang masih tampak segar
dan alami di Desa Petang ini.
Di
samping keberadaan beberapa air terjun di sepanjang sungai, ngarai
sungai yang sekitar 300 meter juga akan memberi kenangan tersendiri,
dimana ribuan kelelawar (kalong) beterbangan mencari makan disekitarnya,
burung-burung langka lainnya, begitu juga monyet abu-abu dan hitam,
kadangkala muncul dari semak belukar.
| jembatan Bangkung |
Lokasi Air terjun Nungnung
| air terjun nung nung Jembatan Kecil Menuju air terjun |
Berjarak sekitar 45
km
ke utara dari Denpasar atau sekitar 1,5 jam waktu berkendara.
Keberadaan air terjun ini tidak jauh dari Jembatan Tukad Bangkung yang
hanya berjarak sekitar 5 km saja. Kondisi jalan menuju kesana cukup
bagus dengan rambu-rambu yang jelas. Sepanjang perjalanan ke sana akan
ditemui banyak areal persawahan dan perkebunan yang hijau. Sayangnya
untuk menuju kawasan ini
tidak ada kendaraan umum untuk menuju kesana.
Jika
dari kota Denpasar arahkan kendaraan menuju Sangeh atau Petang (satu
arah dengan Hutan Pala Sangeh) melalui jalan Akhmad Yani dari jalan
Gatot Subroto. Terus ikuti jalan tersebut. Setiba di pasar desa Mambal
ambil belokan ke kiri. Dari Hutan Pala Sangeh, masih berjarak sekitar 20
km lagi, perjalanan dilanjutkan ke arah Petang atau Pelaga hingga tiba
di Desa Nungnung. Selanjutnya akan ditemui pertigaan dengan plang besar
penunjuk arah
disebelah kanan jalan yang bertuliskan "Nungnung Waterfall”. Dari pertigaan tersebut ambil belokan ke kanan sekitar 500 meter
hingga tiba di tempat parkit lokasi air terjun.
Untuk
mencapai dasar air terjun dari tempat parkir perjalanan dilanjutkan
dengan berjalan kaki menuruni ratusan anak tangga yang sangat curam
sepanjang 2 km atau sekitar 15 menit waktu tempuhnya yang melewati
lembah. Diperlukan ekstra kehati-hatian sewaktu menuruni anak tangga ini
karena cukup curam dan licin meskipun anak tangga tersebut sudah
dibeton. Selain itu banyak tumbuhnya lumut dan semak belukar disisi
kiri kanan anak tangga menambah licin jalan turun tersebut. Juga di
beberapa lokasi terdapat anak tangga yang rusak dan besi tempat pegangan
sudah hilang dan banyak yang keropos. Jarak air terjun ke tempat
parkir ini lumayan jauh sehingga cukup menguras tenaga. Namun di
beberapa tempat tersedia atau sudah dubangun gazebo untuk beristirahat sejenak.
Setelah menuruni ratusan anak tangga tadi dan menyeberangi jembatan kecil akhirnya tibalah di dasar Air Terjun Nungnung.
Total Biaya yang dihabiskan untuk jalan-jalan Kemari murah banget, bensin cuma 40 ribu (karena menggunakan sepeda motor), masuk air terjunnya 3000 per orang dan biaya parkir motor seribu rupiah. Untuk makan dan lainnya silakan menyesuaikan. salam dari Bali
No comments:
Post a Comment